Cerpen

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan hutan bambu yang rindang, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Diki bersama ibunya. Rumah mereka sederhana, rumah panggung berdinding papan kayu yang mulai usang dimakan waktu. Di balik segala kesederhanaan itu, kasih sayang selalu mengalir hangat setiap hari.

Diki adalah anak tunggal. Ayahnya telah tiada sejak ia belum lahir. Sang ibu, Bu Rara, membesarkannya seorang diri dengan berjualan kerupuk keliling desa. Meski hidup serba terbatas, Diki tumbuh menjadi anak yang ceria, penuh rasa ingin tahu, dan haus akan ilmu. Ia suka membaca, apalagi komik-komik pahlawan super seperti Spiderman dan Superman. Rumah pohon kecil di belakang rumah mereka menjadi tempat favoritnya membaca dan berkhayal.

“Ibu, nanti kalau aku besar, aku mau jadi Spiderman!” katanya suatu hari sambil menunjuk langit biru.

Ibunya hanya tersenyum, mengusap rambut Diki yang lebat. “Nak, Spiderman itu hanya tokoh cerita. Tapi kamu bisa menjadi pahlawan sungguhan—bukan dengan kekuatan super, tapi dengan hati yang besar.”

Perkataan itu tak pernah ia lupakan. Suatu sore, ketika ia hendak pergi ke rumah tantenya, ia melihat seorang pria berkostum Spiderman mengamen di tepi jalan. Ia langsung berlari mendekat.

“Spiderman?!” serunya antusias.

Namun saat kostum itu dibuka, ternyata hanyalah Paman Radi, pengamen yang suka memakai kostum aneh untuk menarik perhatian. Diki kecewa, matanya mulai berkaca.

“Maaf ya, Diki. Paman bukan Spiderman sungguhan,” ucap Paman Radi sambil tertawa kecil. “Tapi tahu tidak? Pahlawan sejati itu tidak harus memanjat gedung atau menembakkan jaring. Pahlawa sejati itu ada di dunia nyata.”

Diki termenung. Kata-kata itu menancap di benaknya. Malam itu, ia berbaring sambil berpikir: adakah pekerjaan di dunia nyata yang mirip seperti pahlawan super? Yang melindungi, menolong, dan memberantas kejahatan?

Jawabannya datang bertahun-tahun kemudian.

Kini Diki duduk di bangku kelas 3 SMP. Ia tumbuh menjadi remaja yang rajin, tangguh, dan rendah hati. Suatu pagi, saat menonton berita bersama ibunya di warung Pak Lurah, ia melihat laporan tentang seorang polisi yang menyelamatkan puluhan sandera dari aksi teroris. Polisi itu gagah, tenang, dan berani. Diki terpana. Matanya tak berkedip melihat tayangan itu.

“Bu… aku tahu sekarang,” katanya pelan. “Aku mau jadi polisi.”

Ibunya mendadak terdiam. Wajahnya pucat, lalu perlahan air matanya menetes.

“Kenapa Ibu menangis?” tanya Diki dengan nada cemas. “Bukankah itu pekerjaan yang mulia?”

Bu Rara menggenggam tangan putranya erat-erat. Diki terdiam menunggu jawab ibunya. Hening!.. dengan suara pelan ibunya berkata: “Dulu… ayahmu juga seorang polisi. Ia gugur dalam tugas saat kamu masih dalam kandungan.”

Dunia seolah berhenti. Diki mematung.

“Ibu tak pernah cerita… karena Ibu takut kamu memilih jalan yang sama… dan Ibu kehilangan kamu juga.” 

Malam itu, Bu Rara mengajak Diki ke sebuah kamar yang selama ini selalu terkunci. Di dalamnya terdapat seragam, sepatu hitam mengilap, medali, dan foto-foto seorang pria gagah berwajah mirip Diki. Di bingkai utama tertulis: Iptu Anumerta Damaris Leilani Kusuma.

“Ayahmu bukan polisi biasa. Ia dikenal jujur, berani, dan dicintai rakyat. Ia gugur saat menggagalkan penyelundupan besar di pelabuhan timur,” jelas sang ibu dengan suara lirih.

Diki menatap foto itu dalam-dalam. Air matanya jatuh.

“Ayah… aku bangga padamu. Aku ingin meneruskan perjuanganmu.”

Sejak saat itu, semangat Diki membara. Ia tak hanya belajar lebih giat, tapi juga mulai melatih fisiknya. Setiap pagi, sebelum sekolah, ia berlari keliling sawah. Setiap sore, ia membantu ibunya berjualan. Ia bahkan mulai menabung, berapa pun kecilnya, untuk biaya daftar ke Akademi Kepolisian (Akpol) nanti.

Teman-temannya sering mengejeknya.

“Mau jadi polisi? Mana mungkin! Kamu kan miskin!”

Namun Diki hanya tersenyum. “Mimpi itu gratis. Tapi memperjuangkannya mahal. Aku siap bayar harganya.”

Saat SMA, ia mulai aktif di organisasi sekolah dan kegiatan sosial. Ia menjadi ketua OSIS, melatih bela diri, dan sering membantu Babinkamtibmas di desa sebagai relawan. Ia ingin memahami dunia kepolisian dari dekat.

Lulus SMA, Diki mendaftar ke Akpol. Ia gagal.

Tangisnya pecah malam itu. Tapi ibunya memeluknya erat.

“Kamu tidak gagal. Kamu sedang belajar. Ayahmu juga dulu ditolak dua kali sebelum diterima.”

Diki bangkit. Tahun berikutnya, ia mendaftar lagi. Dan kali ini, namanya tertera di papan pengumuman kelulusan.

Ia bersujud di tanah. Ibunya menangis bahagia. Warga desa bersorak. “Akhirnya, anak desa ini akan jadi polisi!”

Di Akademi Kepolisian, Diki dikenal sebagai taruna yang jujur, disiplin, dan rendah hati. Ia tidak mau disuap, tidak bermain “orang dalam”, dan tidak takut menolak ajakan curang.

“Kalau aku ingin menjadi polisi seperti ayah, maka aku harus menjaga integritasku,” ucapnya setiap kali godaan datang.

Setelah lulus, ia ditempatkan di daerah konflik di perbatasan timur. Ia menghadapi situasi sulit: perang antar kelompok, peredaran narkoba, dan minimnya kepercayaan masyarakat terhadap aparat.

Tapi Diki tidak menyerah. Ia turun langsung ke kampung-kampung, mendengarkan keluhan warga, membuat program remaja bebas narkoba, dan mengajar anak-anak secara sukarela. Ia tak sekadar menegakkan hukum, tapi juga menyentuh hati.

Masyarakat mulai memanggilnya “Pak Polisi Baik”. Anak-anak menirunya bermain peran. Ia merasa bangga.

Bukan karena pangkat. Tapi karena kehadirannya membawa perubahan.

Tahun demi tahun berlalu. Diki terus mencatat prestasi luar biasa. Ia berhasil membongkar jaringan perdagangan manusia lintas negara, memimpin pengamanan aksi demonstrasi tanpa korban, dan membentuk tim pengawasan polisi yang transparan.

Namanya semakin dikenal luas. Ia dipercaya menjadi Kapolda di beberapa wilayah penting. Namun satu hal tak berubah: ia tetap sederhana.

Ia menolak rumah dinas mewah, memilih yang biasa saja. Ia masih pulang ke desa tiap tahun, ziarah ke makam ayahnya sambil mengenakan seragam lengkap.

“Ayah… aku sudah sampai sejauh ini. Tapi aku tahu, tugas ini belum selesai.”

Beberapa tahu berlalu, Diki diangkat menjadi Komisaris Jenderal. Namun tetap sederhana seperti sang ayah. Media menyebutnya “Anak Desa, Polisi Rakyat”. Diki hanya tertunduk setiap kali dipuji.

“Menjadi polisi bukan soal jabatan. Ini soal amanah dan pengabdian. Kami tidak sekadar menjaga hukum. Kami menjaga harapan.”

Setelah menjabat sebagai Komisaris Jenderal, Diki dihadapkan pada tantangan terbesar dalam hidupnya. Ia ditugaskan untuk membenahi internal kepolisian, yang selama ini kerap diterpa isu korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Banyak yang meragukan kemampuannya. Bahkan, beberapa oknum dalam institusi sendiri mulai memusuhinya secara diam-diam.

Namun Diki tak gentar. Ia memulai reformasi dari hal kecil: memperketat seleksi anggota, memperbaiki sistem pelaporan masyarakat, dan membuka ruang dialog antara polisi dan rakyat. Ia sering turun langsung ke lapangan tanpa pengawalan. Ia ingin mendengar sendiri jeritan warga dan keluhan anak buahnya.

Suatu ketika, ia mendatangi kantor polisi di sebuah kota kecil. Ia menyamar sebagai warga biasa dan masuk ke ruang pengaduan. Petugas yang bertugas tak mengenalinya dan bersikap acuh tak acuh. Saat Diki membuka identitasnya, suasana mendadak hening. Ia tidak marah, tetapi memberikan nasihat panjang lebar tentang pentingnya melayani masyarakat dengan hati.

Peristiwa itu viral. Banyak media mengangkatnya sebagai contoh kepemimpinan yang tulus dan tegas. Nama Diki semakin harum, namun ia tetap tak berubah. Setiap Jumat pagi, ia tetap berkunjung ke desa-desa, mendengarkan rakyat, dan memberikan semangat pada para polisi muda.

Pada suatu seminar kepolisian nasional, ia berkata, “Jika kita ingin rakyat percaya pada polisi, maka kita harus menjadi manusia yang bisa dipercaya. Polisi bukan sekadar profesi, tapi jalan pengabdian.”

Dalam kesibukannya, ia tak lupa pada ibunya. Bu Rara kini sudah tua dan sakit-sakitan. Diki merawatnya dengan penuh kasih, menyuapi, memijat kaki, dan mengantar ke rumah sakit sendiri jika sempat. Ia selalu berkata, “Ibu adalah pahlawan pertamaku. Tanpa Ibu, aku bukan siapa-siapa.” Suatu hari, Bu Rara berpulang. Di pemakamannya, puluhan polisi berjajar memberi penghormatan terakhir. Diki menunduk, air matanya mengalir deras. Namun ia tak berhenti melangkah. Ia tahu, pengabdian harus terus berjalan.

Beberapa tahun kemudian, Diki ditawari jabatan tertinggi: Kepala Kepolisian Negara. Banyak yang mendukung, tetapi Diki menolak dengan sopan. “Sudah cukup. Biarkan yang muda melanjutkan. Aku ingin kembali ke desa, mengajar anak-anak tentang arti cita-cita dan keberanian.”

Ia kembali ke rumah masa kecilnya. Rumah panggung itu sudah diperbaiki, namun tetap sederhana.

Di samping rumah, ia membangun sebuah perpustakaan kecil, diberi nama “Perpustakaan Rara Kusuma.”

Anak-anak desa datang setiap hari. Mereka membaca, belajar, dan mendengarkan kisah hidup Diki. Ia mengajari mereka tentang kejujuran, keberanian, dan cinta pada tanah air.

“Kalau kalian ingin jadi pahlawan,” katanya pada suatu sore, “kalian tidak harus kuat. Kalian hanya perlu punya hati yang tak pernah menyerah.”

Dan dari desa kecil itu, lahirlah generasi baru. Generasi yang terinspirasi oleh seorang anak bernama Diki, yang dulu hanya ingin menjadi Spiderman—namun akhirnya menjadi sosok nyata yang jauh lebih berarti bagi bangsa dan negara.

Suatu malam di desa, Diki duduk di beranda rumah, memandang bintang-bintang yang menghiasi langit. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang damai. Seorang anak kecil mendekatinya, duduk di samping.

“Pak Diki,” tanya anak itu, “jadi polisi itu capek, ya?”

Diki tersenyum. “Iya, capek. Tapi lebih capek lagi kalau kita hidup tanpa makna. Kalau kamu bisa bantu orang lain, walau sedikit, itu sudah luar biasa.”

Anak itu mengangguk pelan. “Aku juga mau jadi polisi. Seperti Bapak.”

Diki menatap langit. “Kalau begitu, belajarlah. Jadilah orang baik, bukan hanya pintar. Dunia ini butuh lebih banyak pahlawan seperti kamu.”

Malam itu, di bawah langit yang sunyi, Diki tahu bahwa perjuangannya belum selesai. Ia telah menyalakan lilin kecil yang akan terus menyala di hati anak-anak desa. Dan di sanalah, cita-citanya terus hidup.

Diki kini dikenal bukan hanya sebagai mantan jenderal yang mengabdi, tapi juga sebagai pendidik dan panutan masyarakat. Ia sering diundang ke sekolah-sekolah dan forum pemuda untuk berbagi kisah hidupnya. Setiap kali berbicara, ia tidak pernah meninggikan diri. Ia lebih suka menceritakan perjuangan masa kecilnya dan bagaimana kegigihan dapat mengubah jalan hidup. Dalam setiap kesempatan, ia menekankan bahwa siapa pun bisa menjadi bagian dari perubahan, selama memiliki tekad dan kesungguhan hati. Anak-anak dan remaja yang mendengarnya selalu pulang dengan mata berbinar, membawa semangat baru untuk bermimpi dan berusaha lebih keras.

Selesai. 

Lae Balno, 25 Juni 2025

Ditulis oleh Muhammad Syauqy Surury Azra dalam Rangka HUT Bhayangkara 1 Juli 2025

Leave a Comment